Seputar Sosial Budaya

Siapkan Jalur Wisata, Masyarakat Purwodadi Gelar Grebeg Jatilan

Siapkan jalur wisata songsong hadirnya NYIA, Masyarakat Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, gelar grebeg jathilan. Tak kurang 2.020 penari suguhkan tarian jatilan kolosal dengan mengenakan debog (pelepas daun pisang) yang digelar di Alun-alun eks Kawedanan Purwodadi, Minggu (2/9).

Sebelumnya, dilakukan arak-arakan kuda lumping raksasa, yang juga diikuti Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM bersama Ketua TP PKK Fatimah Verena Prihastyari SE bersama tamu undangan serta seluruh penari jatilan. Bupati bersama ibu Fatimah juga sempat menari bersama, membaur ditengah-tengah ribuah penari jatilan.

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Grebeg Jathilan yang dilaksanakan ini menunjukkan kesiapan Kecamatan Purwodadi dalam menyongsong Romansa Purworejo 2020. Setelah selesainya pembangunan NYIA, diharapkan Purworejo telah siap menjadi kawasan wisata kedua setelah Yogyakarta.

“Ini sangat luar biasa dan perlu diapresiasi. Ini merupakan titik awal dari kebangkitan kita untuk menyambut romansa 2020,” tandasnya.

Dikatakan, Pemkab ingin terus mengembangkan pariwisata di Purworejo dengan wawasan budaya, lingkungan serta ekonomi kerakyatan. Pemkab juga terus mendorong seluruh warga masyarakat untuk menggali potensi wisata yang ada didaerahnya. Menurutnya, desa yang kuat akan menjadikan Purworejo yang hebat.

“Dengan adanya pengembangan pariwisata yang diikuti semangat seluruh masyarakat Purworejo, saya optimis bahwa tahun kunjungan wisata atau Romansa tahun 2020 dapat tercapai,” ujar Bupati.

Camat Purwodadi Drs Heri Raharjo MSi menjelaskan, tarian kolosal  melibatkan siswa SD, SMP, SMA serta 16 group kesenian kuda lumping. Kegiatan ini untuk memeriahkan HUT ke-73 kemerdekaan RI di Kecamatan Purwodadi, sekaligus sebagai upaya untuk mempersiapkan jalur wisata menyongsong hadirnya Bandara NYIA.

“Awalnya jumlah penari sebanyak 2.020 untuk menyusuaikan dengan tema Romansa Purworejo 2020. Namun pada saat berlangsungnya tari kolosal, jumlahnya bertambah menjadi 2.051 penari,” terang Heri.

Tari kolosal ini, lanjut Heri, bisa menjadi salah satu solusi bagi jalur wisata menyongsong Romansa 2020. Dia berharap, kedepan dapat menggelar kegiatan ini semakin baik, sekaligus berharap budaya jaran kepang dapat mengakar dimasyarakat.  

Berita Terpopuler

Kemensos RI Bantu Kuda Kepang di Desa Kaligintung Pituruh
Seputar Sosial Budaya

Kemensos RI Bantu Kuda Kepang di Desa Kaligintung Pituruh

Rabu, 13 November 2019

Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) memberikan bantuan bagi kearifan lokal di Kabupa....