News

Hormat Bendera Merah Putih Bukan Syirik

Masih ada kelompok warga yang menganggap hormat terhadap bendera merah putih merupakan perbuatan syirik, dibantah KH Makin Sadzali saat mengisi siraman rohani pada kegiatan malam tasyakuran HUT ke 74 Kemerdekaan RI. Tasyakuran yang berlangsung di Pendopo yang dihadiri Bupati, jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Veteran, DHC 45, lintas agama, organisasi masyarakat, dan dinas instansi terkait.

            Lebih lanjut KH Makin Sadzali mengaku prihatin kalau sekarang ada orang yang tidak suka dengan negara, tidak menghormati sang saka merah putih dengan segala alasan syirik dan sebagainya. Mohon maaf karena ada berita dan pernah mncul, termasuk di Kabupaten Purworejo sendiri ada sebagian warga yang tidak mau menghormat kepada sang saka merah putih. Ini juga ada catatan di kepolisian.

“Saya katakan kita menghormat kepada sang saka merah putih tidak syirik kepada lambang negara tidak syirik. Bahkan menghormat bendera merah putih sebuah ibadah. Kita mengkaji sjrah nabi muhmad tatkala pra nabi mgirmkn psukn utk berperag. Bendera merupakan sesuatu hal yang dmuliakan,” kata Makin Sadzali.

Menurutnya, kemerdekaan Negara ini adalah rahmat Alloh SWT, maka siapapun orangnya yang menolak negara ini berarti orang yang menolak rahmat Alloh SWT. Dan siapa yang merusak negera ini berarti orang-orang yang merusak rahmat Alloh. “Naudzubillahi min dzalik. Oleh karena itu, kita wajib menjaga negara ini juga wajib menghargai simbol-simbol negara ini. Kita wajib melestarikan negara in semoga menjadi negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur,” tutur KH Makin Sadzali.

Dikatakan, melalui malam tasyakuran dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ini, kita wajib wajib bersykur kepada Allloh SWT, kita wajib bersyukur kepada para pahlawan juga para syuhada. “Orang yang tidak bersyukur kepada, manusia maka tidak akan bersyukur kepada Alloh. Dengan kita bersyukur, ini perbuatan yang diridhoi dan mendapat pahala dari Alloh SWT,” ujar Makin Sadzali.

Sementara itu Bupati dalam sambutannya mengatakan, kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini tentu tidak terlepas dari rakhmat dan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, diawali dengan kalimat “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa”, sebagai bentuk rasa syukur dan pengakuan atas kebesaran Tuhan. Dan rakhmat Tuhan itu sudah barang tentu atas doa-doa yang tak henti dipanjatkan seluruh komponen masyarakat, terutama para pemuka agama.

Setiap kali memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, kita seluruh anak bangsa tentunya tidak akan melupakan catatan sejarah. Dimana kemerdekaan ini diraih dengan perjuangan yang panjang, dengan mempertaruhkan harta benda, air mata, darah dan bahkan nyawa dari para pejuang bangsa. “Sebagian dari para pejuang itu, telah meninggalkan kita karena gugur di medan laga. Sementara sebagian lainnya ada yang masih menikmati alam kemerdekaan, termasuk diantaranya Bapak/Ibu perintis kemerdekaan, veteran, warakawuri dan Angkatan ’45 yang hadir pada malam hari ini.,” tandas Bupati

Dalam tasyakuran tersebut juga diisi uraian sejarah oleh pengurus DHC 45 Soekoso DM SPd, tentang perlawanan rakyat Purworejo bersama mahasiswa ketika melawan penjajahan Belanda di jembatan liwung (buh liwung) cangkrep.

 

 

Hormat Bendera Merah Putih Bukan Syirik

 

            Masih ada kelompok warga yang menganggap hormat terhadap bendera merah putih merupakan perbuatan syirik, dibantah KH Makin Sadzali saat mengisi siraman rohani pada kegiatan malam tasyakuran HUT ke 74 Kemerdekaan RI. Tasyakuran yang berlangsung di Pendopo yang dihadiri Bupati, jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Veteran, DHC 45, lintas agama, organisasi masyarakat, dan dinas instansi terkait.

            Lebih lanjut KH Makin Sadzali mengaku prihatin kalau sekarang ada orang yang tidak suka dengan negara, tidak menghormati sang saka merah putih dengan segala alasan syirik dan sebagainya. Mohon maaf karena ada berita dan pernah mncul, termasuk di Kabupaten Purworejo sendiri ada sebagian warga yang tidak mau menghormat kepada sang saka merah putih. Ini juga ada catatan di kepolisian.

“Saya katakan kita menghormat kepada sang saka merah putih tidak syirik kepada lambang negara tidak syirik. Bahkan menghormat bendera merah putih sebuah ibadah. Kita mengkaji sejarah Nabi Muhammad SAW, tatkala para Nabi mengirimkan pasukan untuk berperang, dan bendera merupakan sesuatu hal yang dmuliakan,” kata Makin Sadzali.

Menurutnya, kemerdekaan Negara ini adalah rahmat Alloh SWT, maka siapapun orangnya yang menolak negara ini berarti orang yang menolak rahmat Alloh SWT. Dan siapa yang merusak negera ini berarti orang-orang yang merusak rahmat Alloh. “Naudzubillahi min dzalik. Oleh karena itu, kita wajib menjaga negara ini juga wajib menghargai simbol-simbol negara ini. Kita wajib melestarikan negara in semoga menjadi negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur,” tutur KH Makin Sadzali.

Dikatakan, melalui malam tasyakuran dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ini, kita wajib wajib bersykur kepada Allloh SWT, kita wajib bersyukur kepada para pahlawan juga para syuhada. “Orang yang tidak bersyukur kepada, manusia maka tidak akan bersyukur kepada Alloh. Dengan kita bersyukur, ini perbuatan yang diridhoi dan mendapat pahala dari Alloh SWT,” ujar Makin Sadzali.

Sementara itu Bupati dalam sambutannya mengatakan, kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini tentu tidak terlepas dari rakhmat dan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, diawali dengan kalimat “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa”, sebagai bentuk rasa syukur dan pengakuan atas kebesaran Tuhan. Dan rakhmat Tuhan itu sudah barang tentu atas doa-doa yang tak henti dipanjatkan seluruh komponen masyarakat, terutama para pemuka agama.

Setiap kali memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, kita seluruh anak bangsa tentunya tidak akan melupakan catatan sejarah. Dimana kemerdekaan ini diraih dengan perjuangan yang panjang, dengan mempertaruhkan harta benda, air mata, darah dan bahkan nyawa dari para pejuang bangsa. “Sebagian dari para pejuang itu, telah meninggalkan kita karena gugur di medan laga. Sementara sebagian lainnya ada yang masih menikmati alam kemerdekaan, termasuk diantaranya Bapak/Ibu perintis kemerdekaan, veteran, warakawuri dan Angkatan ’45 yang hadir pada malam hari ini.,” tandas Bupati

Dalam tasyakuran tersebut juga diisi uraian sejarah oleh pengurus DHC 45 Soekoso DM SPd, tentang perlawanan rakyat Purworejo bersama mahasiswa ketika melawan penjajahan Belanda di jembatan liwung (buh liwung) cangkrep.

Berita Terpopuler

Upacara Hari Pahlawan Tingkat Jateng Dipusatkan Di Purworejo
News

Upacara Hari Pahlawan Tingkat Jateng Dipusatkan Di Purworejo

Rabu, 06 November 2019

Hari Pahlawan tingkat Jateng dipusatkan di Purworejo


Tabur Bunga di TMP Tentara Pelajar Wareng, Gubernur Ajak Hormati Pahlawan Siapapun Dia
News

Tabur Bunga di TMP Tentara Pelajar Wareng, Gubernur Ajak Hormati Pahlawan Siapapun Dia

Senin, 11 November 2019

Peringatan Hari Pahlawan ke-74 Tingkat Provinsi Jawa Tengah dipusatkan di Desa Wareng Kecamatan Butu....


Peringati Maulid Nabi, Warga Ketepeng Watuduwur Bruno Sedekahkan Ratusan Ambeng
News

Peringati Maulid Nabi, Warga Ketepeng Watuduwur Bruno Sedekahkan Ratusan Ambeng

Kamis, 07 November 2019

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Sholallahu â€Â&Acir....