News

Kuda Lumping TGM Sumbersari 60 Tahun Eksis

Kesenian budaya tradisional tak lekang oleh waktu, meski seni budaya modern terus bermunculan. Setidaknya itu dibuktikan dengan masih eksisnya kesenian kuda lumping atau kuda kepang (jaran kepang) yang ada dipinggiran Kabupaten Purworejo, seperti grup kesenian kuda lumping Pusaka Leluhur Tridoyo Gadung Melati (TGM) yang sudah turun temurun beberapa puluh tahun silam. Istilah Tridoyo terdiri gabungan 3 pedukuhan yang menjadi 3 kekuatan untuk nguri-uri seni budaya tradisional  kuda lumping.

            Meski jauh dari kota, tidak heran kesenian kuda lumping dari Desa Sumbersari Kecamatan Banyuurip ini, masih menjadi idola masyarakat. Hampir setiap bulan kuda lumping TGM pentas diberbagai tempat, dengan iringan gamelan pokok, kendang, angklung, saron, demung,  dan kenon (gong lima). Bahkan tak pernah absen pada iven-iven hari besar seperti Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Lebaran, juga kadang tampil pada Hari Jadi Kabupaten Purworejo.

Sejak dulu masih memakai gamelan dan tarian klasik untuk mempertahankan aslinya. Tak terpengaruh yang lain, meskipun kebanyakan sudah memakai kreasi modern. TGM memiliki pakem sesuai yang klasik, dengan rangkaian tarian diawali tari pambuko, tari pancingan, pencak bela diri, tari adu jago yang alur ceritanya prajurit berperang dengan singobarong. Paling pungkasan tari onclongan memakai dua kuda dengan kepala kuda menghadap kedepan yang cerita akhirnya menang merdeka menguasai daerah Sumbersari.

Kuda lumping TGM memiliki kekuatan tersendiri dikala penarinya mulai mendem (kesurupan) yang dirasuki mahkluk lain. Masyarakat yang menonton dibuat semakin penasaran untuk mengikuti ending ceritanya. Penari yang kesurupan selain hentakan gerakan tariannya menjadi semakin cepat, juga akan meminta sesaji (sajen) berupa makanan yang tidak biasa langsung dimakan seperti bunga mawar merah putih, kelapa muda yang dikupas menggunakan gigi, menghirup bakaran serabut kelapa, memanjat tiang, dan sebagainya. Penari yang kesurupan akan kembali pada kesadarannya, setelah ditangani pawang untuk mengeluarkan makhluk yang menguasai raganya.   

Sesaji dan serangkaian ritual disiapkan menjelang pentas dengan mengunjungi makam pepunden (leluhur) di Desa Sumbersari, untuk doa keselamatan. Dimulai Pepunden Mbalong kemudian mengunjungi pepunden Gadung Melati yang merupakan danyang perempuan yang menjaga (mbaurekso) daerah sumbersari, yang mempunyai dua putra dan dua putri. Yakni Raden Gagak Seto, Raden Sigit, dan Sriwati, serta Rantamsari. Sesaji juga akan disertakan mengiringi pementasan kuda lumping. Isinya nasi tumpeng lengkap, seekor ayam hidup, daging kebo beserta kulit dan jeroan, kelapa muda, pisang, kembang mawar, yang nantinya dikonsumsi penari kuda lumping disaat kesurupan. 

Kuda lumping TGM sudah berjalan hampir 60 tahun mempertahankan kesenian tradisonal yang masih asli. Bahkan konon ceritanya TGM sebagai kesenian kuda lumping tertua di Kabupaten Purworejo. Sejak 1962 silam kuda lumping sudah ada, yang awal pendirinya dari alamarhum Semo Lekijo sudah turun temurun, hingga saat ini dipegang Susanto (57) sebagai Ketua Grup kesenian kuda lumping pusaka leluhur TGM, yang terus melanjutkan kesenian turunan nenek moyang.

Peminatnya selalu ada, dengan bergabung masuk menjadi bagian dari anggota grup kuda lumping TGM, untuk turut dalam setiap pentas. Maka anggota maupun penarinya juga ubdate. Dari mulai penari, pemain gamelan hngga sinden, sudah berkali-kali regenerasi, yang melibatkan kaderisasi dari anak-anak usia SD, SMP, SMA hingga orang dewasa. Tanpa mengesampingkan penari lama, untuk tetap juga turut mengisi dalam setiap pentas.

Biasanya anak-anak yang berminat masuk grup, seperti dikisahkan Susanto karena senang dan keinginan sendiri untuk ikut ambil bagian dalam melestarikan kesenian kuda lumping. Untuk regenerasi tidak mencari-cari, namun kebanyakaan ingin bergabung.  Anggota mencapai 45 orang yang terdiri penari 20 orang dan 25 pemain gamelan dan pengurus. Masing-masing penari usianya bervariasi antara 12 tahun yang paling muda hingga 57 tahun yang paling tua. Penari yang masih pelajar dalam pentas maupun main, harus tetap mengutamakan sekolahnya sehingga tidak mengganggu jam pelajaran.    

Dalam setiap pentas tidak dipatok harga paten tetapi akan disesuaikan pada iven apa kuda lumping dipentaskan. Biasanya kalau mendapat uang lelah yang cukup. maka dibagikan merata ke semua anggota grup TGM. Namun sebaliknya jika tidak cukup, akan dikumpulkan dan digunakan untuk perawatan alat dan untuk pengadaan seragam. Hanya saja yang dikeluhkan Susanto, Kuda lumping TGM masih sangat prihatin, karena belum bisa membeli kuluk (sejenis mahkota) kepala yang seperti dahulu ketika awal berdiri.

Sehingga sekarang dalam pentas hanya menggunakan ikat kepala sebagai pengganti kuluk. Kini masih terus berusaha untuk memiliki kuluk kembali, hanya saja dengan keterbatasan biaya belum bisa dipastikan kapan dapat terwujud. Harapannya ada solusi untuk pengadaan kuluk sebagai kelengkapan kuda lumping seperti pada zaman dulu pentas.

Tak hanya bertahan ditengah gencarnya kesenian modern, namun lebih dari itu Haryono menambahkan, akan terus mengeksiskan kuda lumping. Maka grup TGM bukan sebagai tempat mencari nafkah atau sumber penghasilan. Tapi semata-mata memiliki tanggungjawab untuk nguri-uri seni budaya tradisional sebagai kebanggaan yang merupakan turun temurun nenek moyang terdahulu. Mayoritas pekerjaan grup TGM sebagai petani, juga ada yang pelajar.

Penari kuda lumping TGM, Firman Maulana (13) yang masih pelajar kelas 7 SMP sudah ikut bergabung sejak 3 tahun terakhir. Selain tertarik juga ingin ikut melestarikan ksenian tradisional. Meski ketika menari sering mengalami kesurupan dan memakan bunga mawar yang berakhir dengan kelelahan, namun tidak menyurutkan semangatnya akan terus melanjutkan sampai dengan lulus sekolah bahkan jika sudah kerja kelak.  

Berita Terpopuler

Tabur Bunga di TMP Tentara Pelajar Wareng, Gubernur Ajak Hormati Pahlawan Siapapun Dia
News

Tabur Bunga di TMP Tentara Pelajar Wareng, Gubernur Ajak Hormati Pahlawan Siapapun Dia

Senin, 11 November 2019

Peringatan Hari Pahlawan ke-74 Tingkat Provinsi Jawa Tengah dipusatkan di Desa Wareng Kecamatan Butu....


Upacara Hari Pahlawan Tingkat Jateng Dipusatkan Di Purworejo
News

Upacara Hari Pahlawan Tingkat Jateng Dipusatkan Di Purworejo

Rabu, 06 November 2019

Hari Pahlawan tingkat Jateng dipusatkan di Purworejo


Peringati Maulid Nabi, Warga Ketepeng Watuduwur Bruno Sedekahkan Ratusan Ambeng
News

Peringati Maulid Nabi, Warga Ketepeng Watuduwur Bruno Sedekahkan Ratusan Ambeng

Kamis, 07 November 2019

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Sholallahu â€Â&Acir....