News

Kelola Sampah Hasilkan Jutaan Rupiah

 Sampah yang jika dibiarkan akan membahayakan lingkungan sekaligus sampah merupakan limbah yang tak berguna. Namun dibalik itu ternyata sampah memiliki nilai jual, bahkan hingga jutaan rupiah. Ketika dilakukan pengolahan dengan tepat dan telaten, sampah menjadi benda yang indah dan dapat bermanfaat untuk lingkungan. Salah satunya pengolahan sampah menjadi pupuk organik, atau menjadi kerajinan asesoris yang menarik.

 Ungkapan itu disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo Ny Dra Erna Setyowati Said Romadhon, ketika membuka pemilahan dan pengelolaan limbah rumah tangga di Kantor PKK Kabupaten Purworejo. Hadir pula Ketua Pokja III PKK kabupaten Ny Rahyuning Roeswardjito, dan sebagai narasumber Maria Dini ST MM, Ny Sri Bandu Sunardi, Dwi Agus Santo

Lebih jauh Ny Erna Said mengatakan, pengolahan pupuk organik dari sampah sudah dikembangkan di Desa Trirejo Loano. Bahkan sudah mempunyai Bank sampah yang menghasilkan omset hingga RP.15-25 juta per bulan. Demikian juga sampah plastik yang dikelola Ny Sri Bandu Sunardi seperti tas plastik (plastik kresek) menjadi asesoris yang sangat menarik, yang sekaligus menghasilkan rupiah. Disamping bisa menambah pendapatan keluarga juga yang terpenting kita harus ambil bagian untuk mengurangi sampah. “Maka tinggal keniatan dan ketelatenan kita dalam mengelola sampah, untuk bisa dimanfaatkan, sehingga kita sebagai warga masyarakat dan sebagai warga negara yang baik dapat menjadi bagian penyelamat lingkungan,” kata Ny Erna Said.

            Untuk itu kita yang setiap hari menghasilkan sampah rumah tangga, tentu juga bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang menghasilkan rupiah. Paling tidak berupaya memilah sampah organik dan anorganik. “Melalui pelatihan mengolah sampah ini, dapat dijadikan sebagai acuan untuk diiprakatekkan dirumah. Terutama dalam memanfaatkan sampah menjadi pupuk maupun media tanaman, dan menjadikan asesoris seperti tas atau bunga, ” harap Ny Erna Said.

Sementara itu Ny Sri Bandu Sunardi melatih pembuatan bunga dan tas untuk bepergian, yang kesemuanya terbuat dari sampah tas plastik (kresek). Diawali tas plastik yang warna merah, ungu, atau yang lain terus dicuci bersih dan dikeringkan. Lalu digunting menjadi dua bagian, dan disetrika dengan suhu panas sedang. Supaya tidak lengket pada setrika diatas tas plastik dibalut kertas minyak. Setelah disetrika akan menghasilkan plastik yang membentuk kerutan-kerutan rapi lalu dipola bunga dan digunting.

Selanjutnya dibentuk bunga sepatu dan bunga mawar dengan ukuran lebih besar 4 kali lipat dibanding bunga aslinya. Demikian juga dalam membuat tas, prosesnya hampir sama yakni dicuci, disetrika, dipola, lalu dijahit dengan ditambahkan busa dan kalep sebagai talinya. “Mengolah sampah ini sangatlah mudah jadi semua pasti bisa, yang penting mau. Bahkan harganya untuk satu tangkai bunga mencapai Rp.20-25 ribu dan satu buah tas harganya Rp 50-100 ribu rupiah. Harus diingat, yang diolah adalah tas plastik bekas, bukan beli baru. Kalau beli baru percuma bukan mengurangi sampah tapi malah menambah sampah dan membuat masalah baru,” jelas Ny Bandu Sunardi.   

Sedangkan Dwi Agus Santoso melatih membuat sampah pempers menjadi media tanaman, dimulai dari pempers yang sudah dipakai bayi atau lansia maupun pembalut wanita, lalu dicuci atau tidak dicucipun tidak apa-apa. Kemudian diambil jelnya dan diberi air serta tanah yang ditaruh dalam pot dan siap ditanami. Jel dapat menyimpan air lebih lama, sehingga lembab dan menyuburkan tanaman. Untuk pembuatan pupuk kompos dari sampah organik bisa dijual Rp.5000 perbungkus, serta pengolahan kerajinan dari sampah botol plastik yang dijual antara Rp.1 juta hingga Rp.1,5 juta. Disamping itu Dwi Agus juga menguraikan tentang Bank sampah yang produknya tidak hanya uang tapi bisa produk lain seperti sembako, pembayaran BPJS, pajak, dll.

Ketua penyelenggara Ny Rahyuning Roeswarjito mengatakan peserta yang dilatih 50 orang dari desa-desa merah dan desa P2MBG. Tujuannya agar mau memilah dan mengolah sampah rumah tangga, serta mengurangi penggunaan plastik sampah. “Selain pelatihan ini kami Pokja III PKK kabupaten, juga menyelenggarakan kegiatan optimalisasi dan pemanfaatan lahan pekarangan. Harapannya tidak hanya sekedar pelatihan, tapi supaya dapat dipraktekkan dalam sehari-hari,” tuturnya.  

Berita Terpopuler

Perbaiki Kinerja Pelayanan, Bupati Rotasi Sejumlah Pejabat
News

Perbaiki Kinerja Pelayanan, Bupati Rotasi Sejumlah Pejabat

Rabu, 22 Mei 2019

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM melantik dan mengambil sumpah 53 jabatan Administrator dan pejab....


Berikan Dukungan, Bupati Jenguk Layla
News

Berikan Dukungan, Bupati Jenguk Layla

Selasa, 21 Mei 2019

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM menjenguk Layla Putri Ramadhani (16) siswi kelas IX SMP Negeri 2....


Zakat Fitrah Lebih Baik Di Lingkungan Sendiri
News

Zakat Fitrah Lebih Baik Di Lingkungan Sendiri

Rabu, 22 Mei 2019

pemerintahan