News

Persentase Zakat Masih Kecil, ASN Perlu Dimotivasi

Persentase pengumpulan zakat yang masih kecil mendorong perlunya penguatan kelembagaan pengelola zakat sekaligus sosialisasi secara terus menerus kepada aparatur negara, agar mereka termotivasi untuk menunaikan kewajiban berzakat.

Hal itu dikatakan Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM saat membuka pertemuan antara unsur Perangkat daerah dengan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Purworejo, Rabu (13/3).

Bupati menjelaskan, potensi zakat yang berasal dari aparatur negara di Kabupaten Purworejo sebenarnya cukup besar. Jika diasumsikan 75 persen saja dari seluruh PNS Purworejo yang berjumlah 8 ribu orang mau membayar zakat melalui BAZNAS, maka akan terkumpul Rp 7,2 milyar pertahun.

Jumlah itu tentunya akan sangat membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Namun hingga saat ini realisasi pengumpulan zakat masih belum maksimal. Pada tahun 2018 saja, zakat yang disalurkan melalui BAZNAS Kabupaten Purworejo baru Rp 2,8 milyar yang berasal dari 1.908 muzakki (pembayar zakat).

Bupati mengemukakan, persentase pengumpulan zakat yang masih kecil, kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Disamping kesadaran membayar zakat yang memang masih kurang, juga dipengaruhi faktor transparansi pengelolaan zakat, yang membuat keraguan para calon muzzaki.

“Selain itu masih banyak juga yang belum tahu manfaat dari zakat ini, dimana sesungguhnya zakat tidak hanya berdampak terhadap penerima zakat, tetapi juga terhadap pemberi zakat,” katanya.

Dikatakan, dari hasil penelitian Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS tentang Efektivitas Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat BAZNAS Pusat Tahun 2018, telah menunjukkan hasil-hasil yang amat menggembirakan.

Penelitian itu menunjukkan bahwa berbagai program pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang dilakukan BAZNAS pusat tahun 2018 telah berhasil dalam banyak hal. Antara lain berhasil secara signifikan memperbaiki tidak hanya kesejahteraan ekonomi mustahik (penerima zakat), tetapi juga kesejahteraan spiritual (keislaman), tingkat pendidikan dan kesehatan, dan kemandirian ekonomi. Selain itu juga berhasil mengentaskan 28% mustahik dari garis kemiskinan versi Badan Pusat Statistik (BPS).

“Program BAZNAS juga berhasil meningkatkan penghasilan mustahik hingga melampaui garis nishab zakat, yang berarti bahwa mustahik tersebut telah dientaskan dari kemiskinan sedemikian rupa sehingga yang bersangkutan telah berubah status menjadi muzaki,” imbuhnya.

Dengan demikian, lanjutnya, bisa disimpulkan bahwa multiplier effect dari pendistribusian dan pendayagunaan zakat sangat besar. Efek tersebut akan semakin membesar sebanding dengan besarnya jumlah zakat yang didistribusikan dan didayagunakan. Karena itu, menjadi sangat penting untuk memperbesar jumlah zakat yang dikumpulkan.

Dirinya berharap kedepan pengumpulan dan pentasyarufan Zakat Infak Sodaqoh yang dikelola oleh BAZNAS Kabupaten Purworejo dapat lebih optimal.

Pada kesempatan itu, Bupati juga menyerahkan piagam penghargaan kepada lima UPZ terbaik, yakni Kantor Kemenag, RSUD Dr. Tjitrowardojo, Kantor Dindikpora, Setda, dan Dinas PPKP. Bupati juga menyerahkan bantuan RTLH dan bantuan modal usaha dari Baznas.

 

 

Berita Terpopuler

Kampung KB Candisari Jadi Percontohan Tingkat Provinsi
News

Kampung KB Candisari Jadi Percontohan Tingkat Provinsi

Selasa, 18 Juni 2019

pemerintahan


Loano Launching Klinik Konsultasi Dana Desa
News

Loano Launching Klinik Konsultasi Dana Desa

Rabu, 19 Juni 2019

pemerintahan


Siltap Akan Dibarengi Pengawasan Kinerja
News

Siltap Akan Dibarengi Pengawasan Kinerja

Senin, 24 Juni 2019

pemerintahan