Seputar Aneka Ragam

Perlunya Program Pembangunan Bidang Pariwisata Berkelanjutan

Adalah Soekoso DM SPd dari Kwarcab, yang menyataan bahwa bidang pariwisata di Purworejo kurang mendapat pehatian. Menurutnya, setiap terjadi pergantian pimpinan derah, kebijaknnya selalu berganti. Akibatnya, penanganan masalah wisata tidak selalu konsisten.
Misalnya penangan kawasan wisata Gua Seplawan, ketika bupatinya ganti, maka kebijakannya berbeda. Sehingga pengelolaannya tak dilanjutkan dan beralih ke obyek yang lain. Demikian juga ketika bupati yang baru mengembangkan obyek wisata Geger Menjangan. Saat pengembangan belum selesai, masa bakti sudah berahkir dan digantikan orang lain dengan kebijakan yang berbeda.
Hampir senada juga disampaikan Riyanto Purmomo, pemuda pelaku seni dari kecamatan Bagelen. Menurutnya pariwisata dan budaya tidak bisa dipisahkan. Pariwisata tanpa budaya, tidak akan ada artinya, demikian sebaliknya. Namun untuk mengembangkan kebudayaan yang ada, pemkab sendiri selalu bekilah tidak ada anggaran. Sudah dua kali dirinya mengikuti seleksi ke tingkat nasional, namun pemkab sendiri tidak mampu membiayai.
Sementara Zaenal Abidin, perwakilan BPD Kecamatan Banyuurip, mengaku prihatin atas banyaknya areal pertanian produktif yang berlalih fungsi ke non pertanian. Untuk itu, ia mengusulkan agar perbaikan irigasi menjadi prioritas pembangunan. Bila bidang ini mendapat prioritas, ia yakin produksi padi di Kabupaten Purworejo bisa ditingkatkan. Baik melalui lahan baru, atau sawah bisa panen sebanyak tiga kali dalam setiap tahunnya.
Menggapi hal itu Medi Priyono menyatakan bahwa berdasarkan evaluasi, kelembagaan struktur organisasi dan tata kerja Pemkab Purworejo mendatang akan dirubah kembali. Setelah kelembagaan yang terbaru telah berjalan setahun, maka dievaluasi kembali. Dari hasil evaluasi tersebut, sangat dimungkinkan bidang kebudayaan dan pariwisata menjadi SKPD tersendiri. Saat ini bidang tersebut menyatu di Dinas Pendidikan. Karena terlalu banyaknya urusan dinas pendidikan yang harus ditangani, maka bidang pariwisata dan kebudayaan kurang terurus.
Tentang alih fungsi lahan pertanian, Pemkab Purwerejo berusaha mengendalikan agar tidak mengurangi lahan produktif. “Sekarang kita tidak bisa membedakan mana Kutorajo dan Purworejo. Sebab dua wilayah tersebut sudah gendeng. Apalagi bila besok jalur lintas selatan sudah dioperasionalkan, maka orang tidak akan mengenal Purworejo,” katanya.

Berita Terpopuler

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim
Seputar Aneka Ragam

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim

Rabu, 11 September 2019

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM menghadiri Pengajian akbar dan pemberian santunan anak yatim dal....