Seputar Aneka Ragam

Keanekaragaman dan Perbedaan Sebagai Kekayaan, Bukan Ancaman Disintegrasi

Hal itu disampaikan KH R Junaidi Jazuli, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Purworejo, ketika menjadi pembicara pada acara dialog interaktif memperkuat  persaudaraan antar elemen masyarakat untuk meningkatkan stabilitas daerah. Kegiatan diselenggarakan oleh Kantor Kesbangpol Linmas Kabupaten Purworejo, Sabtu (24/12), di gedung PGRI, dibuka Wakil Bupati Purworejo, Suhar. Hadir empat pembicara, yaitu KH R Junaidi Jazuli, Soekoso DM SPd (budayawan), Darwoto (Polres Purworejo), Kapt Ilham Faizal Siregar (Kodim 0708).

Dikemukakan bahwa janji pemerintah kolonial Belanda untuk membangun Indonesia saat itu, teryata hanya bisa dinikamati segelintir orang saja. Misalnya pendidikan, ternyata yang bisa menikmati orang-orang tertentu. Pembangunan irigasi ternyata hasilnya untuk kepentingan pemerintah kolonial. Demikian juga transmigrasi, yang berakibat kapitalisme.

Dari penindasan itulah akhirnya muncul ide-ide untuk persatuan dan kesatuan. Pertama tahun 1908 dengan berdirinya Budi Utomo. Dua puluh tahun kemudian (1928) di  deklarasikan Sumpah Pemuda. Dan puncaknya 17 Agustus 1945 diproklamasikan Kemerdekaan RI. Momen tersebut bukan akhir tujuan, melainkan pintu gerbang untuk  membangun bangsa. Bagaimana mengsisi kemerdekaan tesebut, tergantung masyarakat sendiri.

Disisi lain ia menyatakan bahwa keanekaragaman hendaknya dipandang sebagai kekayaan,  bukan untuk perpecahan. Manusia punya berbagai kepentingan, namun bila tidak bisa mengendalikannya bisa berbenturan dengan orang lain. Ia mencontohkan, di India negara asal Agama Hindu dan Budha tidak ditemukan candi semegah Candi Prambanan dan Borobudur. Di Arab Saudi asal penyebaran agama Islam, tidak ditemukan masjid semegah di Indonesia.

Nara Sumber lain Soekoso DM, dengan tema tradisi budaya daerah dan adat istiadat sebagai potensi untuk memperkokoh wawasan kebangsaan, mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini negara kita terjadi carut marut. Hal itu antara lain disebabkan pendekatannya dengan mengedepankan nalar, sementara pendekatan budaya dikesampingkan.  Perbedaan pendekatan mewarnai kehidupan bangsa Indonesia. Di era orde lama, pemerintah saat itu anti barat. Berbagai kehidupan yang dianggap meniru budaya barat dilarang.

Berbeda saat pemerintahan orde baru, saat itu anti komunis. Budaya yang berasal dari negara komunis seperti dari China yang dianggap sebagai basis komunis dilarang. Contohnya kesenian barongsai, liang-liong. Pemeritah terkesan otoriter. Diera kemajuan teknologi infomasi dan komunikasi, pengaruh globalisasi makin terasa, utamanya kebebasan berekpresi dan meyampaikan pendapat. Hak azazi manusia (HAM) dijunjung tinggi, kendati akhirya banyak yang melanggar HAM itu sendiri.  Sikap egois, budaya gotong royong semakain menurun, merasa benar sendiri nampak dalam kedupan sehari-hari.

Sementara Ilham Faisal Siregar mengingatkan bahwa di era globalisasi ini, kita terbuka untuk menerima budaya asing. Namun masuknya budaya asing itu  hendaknya jangan samai menghilangkan budaya lokal, yang selam ini dikenal ssesuai dengan jati diri bangsa Indnesia. Yang terjadi akibat globalisai itu, banyak terjadi berbagai perubahan, misalnya maraknya peredaran gelap narkoba, terjadinya kekerasan, pemaksaan kehendak.

Berita Terpopuler

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim
Seputar Aneka Ragam

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim

Rabu, 11 September 2019

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM menghadiri Pengajian akbar dan pemberian santunan anak yatim dal....