Seputar Aneka Ragam

Petani Kemadu Lor Kembangkan Pertanian Organik

Hal itu terungkap dalam sarasehan pertanian yang diselenggarakan gabungan kelompok tani (gapoktan) “Madu Makmur” Desa Kemadu Lor Kecamatan Kutoarjo, akhir pekan lalu,  di balai desa tersebut. Sarasehan dengan tema “Menjaga ekosistem tanah, bertani tanpa pupuk dan pestisida”, dibuka Plt Sekretaris Dinas Pertanian, Peternakan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo, Ir Wardaya. Hadir sebagai nara sumber, Ir Purnomo Singgih, seorang petani tradisional dari Desa Panjatan, Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen.
Menurut ketua gapoktan “Madu Makmur” Muh Tarom SPd, metode ini sudah diujicoba kelompoknya selama dua kali musim tanam. Selama dua musim tanam itu, ia mengakui pada walnya produksi padi menurun dibanding sebelumnya yang menggunakan pupuk buatan. “Namun bila dihitung dengan biaya produksi lebih menguntungkan, karena biayanya lebih murah, kualitasnya juga lebih bagus,” ungkapnya.
Ia mencoba cara itu, setelah magang beberapa hari kepada Purnomo Singgih di Kebumen. Setelah dua kali musin tanam dicoba, ternyata hasilnya sangat memuaskan. Agar cara itu dikembangkan di desa lain, pihaknya mengundang nara sumber pada sarasehan. Sarasehan diikuti sekitar 250 otang, berasal dari ketua gapoktan desa/ kelurahan se Kecamatan Kutoarjo, perwakilan ketua kelompok tani se Kecamatan Kutoarjo, perwakilan petani serta para kepala desa/ lurah se Kecamatan Kutoarjo.
Camat Kutoarjo Sudaryono SSos pada kesempatan yang sama mengaku bangga atas upaya yang dilakukan gapoktan Desa Kemadu Lor. Mereka dinilai mampu membuat terobososn-terobosan baru dan menggandeng mitra.
Menurutnya, Pemkab Purworejo sudah lama mengurangi alokasi pupuk buatan, untuk mendorong petani kembali menggunakan pupuk organik. Tujuannya diantaranya untuk mengembalikan kesuburan tanah. “Sehingga bila terjadi kelangkaan pupuk kimia, mestinya petani sudah tidak perlu kebingungan lagi,” katanya.
Ia berharap, dengan diselenggarakan sarasehan seperti itu, bisa menjawab apabila suatu ketika terjadi kelangkaan pupuk kimia. Apalagi pemerintah mencanangkan swasembada pangan, dengan meningkatkan produksi padi, jagung kedelai di tahun 2017. Program tersebut dilaksanakan tanpa mengorbankan ekosistem.
Ia mengakui namun juga tidak bisa menyalahkan bahwa pemerintah saat itu ( di era orde baru) menggalakkan penggunaan pupuk kimia/ buatan. Sebab  saat itu yang dikejar pemerintah swasembada beras. Namu sayangnya disisi lain, ekosistem dikesampingkan. Selama kurun waktu itulah, masyarakat makan makanan yang mengandung residu bahan berbahanya bagi kesehatan, yang berasal dari pupuk kimia. “Berkaca dari kondisi tersebut, saat ini mulai digalakkan kembali ke tradisional, dengan menggunkaan pupuk organik,” katanya.
Ia mengakui bahwa petani Indonesia khusunya di pulau Jawa, memiliki lahan dan kemampuan yang terbatas. Sehingga saat menerapkan metode baru dan hasilnya menurun, umunya tidak bergairah untuk melanjutkan lagi. Untuk itu ia minta kepada nara sumber agar mampu memberi motivasi dan metode yang tepat dan mudah diterapkan petani.
Nara sumber Purnomo Singgih, mengisahkan bahwa dirinya menggeluti pertanian secara tradisional mulai tahun 2008. Jauh sebelum pemerintah menggalakkan pertanian organik, ia sudah melaksanakan. Selama kurun waktu itu, ia terus mengamati setiap perkembangan tanamannya.
Untuk memenuhi unsur hara yang dibutuhkan tanaman, ia memanfaatkan mikro orgnanisme. Ia terus berinovasi dan mempelajari kandungan serta manfaatkan setiap bahan organik yang ada di sekelilingnya. Terciptalah sebuah ide untuk membuat MOL dengan bahan baku yang berasal dari bio dengan harga murah dan mudah diperoleh.
Ia mengingatkan kepada petani, agar meninggalkan dua pertiga jerami sisa panen di sawah, karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Menurutnya, dua bagian jerami padi di lahan seluas 100 ubin, manfaatnya sama dengan 50 kg pupuk nitrogen. “Karena itu jangan membuang jerami padi yang tersisa di sawah, biarkan agar membusuk sebagai pupuk,” pesannya.
Sebagai pupuk lain, ia membuat inovasi baru dengan memanfaatkan MOL, yang berasal dari berbagai bahan organik. Seperti fermentasi dari bahan pupuk kandang, tanaman yang mengandung Nitrogen tinggi, buah nanas, air cucian beras (leri)  dan sebaginya. Cairan fermentasi tersebut semprotkan ke lahan baik sebelum maupun setelah tanam. Sebagai bahan pestisida, ia memanfaatkan saos cabe.

 

Berita Terpopuler

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim
Seputar Aneka Ragam

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim

Rabu, 11 September 2019

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM menghadiri Pengajian akbar dan pemberian santunan anak yatim dal....