Seputar Aneka Ragam

Bupati Minta Jembatan Rebug Segera Dibangun

 

”Maka saya minta jembatan Rebug supaya secepatnya dibangun, minimal jembatan darurat dan paling tidak bisa dilalui anak-anak yang sekolah. Sambil menunggu bantuan dari Kementerian PU untuk membangun jembatan gantung. Mudah-mudahan dalam waktu satu bulan jembatan darurat bisa dibangun, sehingga bisa dimanfaatkan untuk aktifitas anak-anak sekolah dan masyarakat,” harap Agus Bastian saat meninjau jembatan Rebug di desa Rebug pada Kamis (25/2).

Bupati juga menjelaskan, peninjauannya di jembatan Rebug yang rusak karena banjir itu, juga dalam rangka menindaklanjuti instruksi Gubernur Jawa Tengah. Tentu akan segera diselesaikan agar tidak berlarut-larut. “ Jembatan putus dari 2014 hingga saat ini 2016 belum ada perbaikan. Ini pertama saya menjabat sudah banyak yang laporan tentang kerusakan infrastruktur. Mudah-mudahan kita dapat menyelesaikan sendiri di tingkat kabupaten dengan melibatkan masyarakat setempat. Saya ingin kerja cepat, maka dinas terkait untuk segera melaksanakan” ujar Bupati yang didampingi Dinas PU, BPBD, Dinas SDA dan ESDM, Camat Kemiri, dan Lurah Rebug.

Selain jembatan Rebug tersebut, dikatakan Bupati kerusakan jalan di Desa Gowong Kecamatan Bruno, jalan berlubang di jalan Kutoarjo Kebumen, kerusakan jembatan Bagelen. “Ini masukan dari masyarakat yang harus segera ditindaklanjuti. Saya sangat berharap kerusakan-kerusakan tersebut agar secepatnya dilaksanakan perbaikan-perbaikan, jangan sampai aktifitas masyarakat terganggu karena infrastrukturnya tidak diperhatikan,” tandas Bupati. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Fatori yang ikut dalam peninjauan itu mengaku siap melaksanakan perbaiakn terutama jembatan darurat di Rebug. Dia menambahkan, dinas akan memberikan bantuan sesuai dengan prosedur melalui musrenbang di tingkat desa hingga ditingkat kabupaten. “Demikian juga dinas tidak akan tahu kerusakan infrastruktur kalau desa tidak memberitahukan atau tidak mengajukan proposal. Karena dinas menangani sebanyak 494 desa, sehingga tidak bisa melihat secara langsung satu persatu desa. Untuk pemberian bantuan kedesa, terlebih dulu desa dan masyarakat berswadaya bisa berupa batu, pasir, tenaga, dll. Baru kemudian Pemerintah Kabupaten memberikan bantuan aspalnya atau yang lain,” kata Fatori.

Secara terpisah Kepala Seksi Rekonstruksi BPBD Kabupaten Purworejo Anggoro Ari Cahyono ST MT mengatakan,  dalam penanganan bencana ada tiga pilar yakni penanganan oleh pemerintah, masyarakat, juga dunia usaha. Untuk penanganan seperti jembatan Rebug yang putus diterjang banjir, BPBD telah melakukan upaya perbaikan paska bencana. Antara lain telah mengajukan anggaran di APBD untuk pembangunan jembatan tersebut sekitar Rp. 400 juta lebih. Namun tidak bisa realisasi karena penerima bantuan hibah harus memiliki Badan Hukum, sesuai  aturan dalam Undang -Undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah.

“ Sementara untuk ngoyake mengurus kepemilikan Berbadan Hukum, tentu butuh waktu. Maka bantuan itu belum bisa cair, sehingga pembangunan jembatan tertunda. Disamping upaya itu kami juga mengajukan proposal ke  Corporate Social Responsibility (CSR) BNI Cabang Magelang, dengan maksud agar bisa cepat realisasi untuk membangun jembatan.  Karena melalui CSR, pengajuannya tidak berbelit-belit dengan aturan. Mudah-mudahan pengajuan proposal bisa realisasi,” ujar Anggoro yang didampingi Kepala Seksi Kedaruratan Drs.Sigit Ahmad Basuki.

Berita Terpopuler

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim
Seputar Aneka Ragam

Peringati Tahun Baru Islam, Kecamatan Butuh Gelar Pengajian dan Beri Santunan Kepada Anak Yatim

Rabu, 11 September 2019

Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM menghadiri Pengajian akbar dan pemberian santunan anak yatim dal....