Get Adobe Flash player
Home News Seputar Pendidikan Sejumlah Aktor Hadiri Diskusi Sejarah Dan Film “Wage”

Sejumlah Aktor Hadiri Diskusi Sejarah Dan Film “Wage”

Diskusi sejarah dan film yang menceritakan perjalanan Wage Rudolf (WR) Supratman berjudul “Wage” digelar di Pendopo Kabupaten, Selasa (7/11). Diskusi menjadi menarik, mengingat kontroversi cerita hidup WR Supratman. Hadir sederet aktor pemeran film “Wage”, Asisten II Sekda Gandi Budi Supriyanto SSos, nara sumber Dosen UGM Yogyakarta Julianto Ibrahim dan Budayawan Purworejo Soekoso DM serta ratusan guru sejarah SMA dan SMP sederajat se-Purworejo.

Diketahui, sejarah lama menyebutkan bahwa WR Soepratman lahir di Meester Cornelis Jatinegara, Jakarta. Namun setelah melalui beberapa penelitian yang melibatkan para ahli, terkuak bahwa sang komponis lagu Indonesia Raya itu lahir di Dusun Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Dibuatnya film Wage garapan sutradara John De Rantau ini juga menjadi salah satu penguatan sejarah, mengulas Musisi Wage Rudolf Supratman yang menjadi sosok penting pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Namun, keterbatasan referensi dan dokumen sejarah mengenainya membuat kisah hidup dan perjuangan sang pahlawan nasional itu belum diketahui secara gamblang.

Film biopik berdurasi 120 menit itu menampilkan Rendra Bagus Pamungkas sebagai pemeran tokoh WR Supratman, serta sederet aktor dan aktris lainnya, seperti Tengku Rifnu Wikana, Annisa Putri Ayudya, dan Priscilia Nasution. Film tersebut tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 November 2017.

Soekoso DM, budayawan Purworejo menjelaskan bahwa sejarawan asal Kabupaten Purworejo memilik andil besar dalam penulisan sejarah ulang kelahiran WR Soepratman. Pasalnya, sebelum pelurusan sejarah dilakukan, WR Soepratman tercatat sebagai bayi yang dilahirkan di Jakarta.

Namun sejarah tersebut dibantah sesuai putusan Pengadilan Negeri (PN) Purworejo 2007, WR Soepratman dilahirkan di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo 19 Maret 1903. "Bahwa memang, kehidupan WR Soepratman ini sangat unik, ngeres (tragis), jadi saya sangat mengapresiasi pembuatan film Wage," ungkapnya.

Sementara itu, Julianto Ibrahim, dosen UGM Yogyakarta menekankan, saat ini perlu dilakukan penulisan ulang sejarah WR Soepratman. Mengingat saat ini tidak sedikit banyak buku sejarah yang masih menuliskan kelahiran WR Soepratman tanggal 9 Maret 1903 di Jatinegara. Bukan sebagai mana putusan PN Purworejo dari berbagai kajian sejarah. "Jadi saya kira ini tugas guru-guru sejarah yang disini untuk meluruskan sejarah kepada para siswa," ujarnya.

Sang sutradara John De Rantau sendiri mengakui bahwa awalnya dirinya mengalami kesulitan dalam pembuatan film tersebut. Hal itu karena Film Wage merupakan film kebangsaan tentang sosok kehidupan nyata namun tidak pernah terlihat jelas bagaimana hidupnya.

"Sulit sekali merunut sejarah demi pembuatan film ini. Film Wage merupakan film kebangsaan tentang sejarah gelap bangsa Indonesia yang tidak terbuka dengan baik. Lewat film ini saya juga mencoba mencubit para sejarawan untuk jujur dalam menuliskan sejarah," tutur John.

Dirinya melakukan riset panjang selama tujuh tahun sebelum membuat Film tentang kisah Wage tersebut. “Saya membaca sumber tertulis yang mengulas sejarah hidup Wage, memburu karya-karya karangannya, hingga mewawancarai ahli waris almarhum," lanjutnya.

John menambahkan, semangat yang dibawa dalam film Wage merupakan semangat pluralisme, semangat pemersatu anak bangsa. Menurutnya, Wage merupakan sosok idealis yang tangguh, sosok anak bangsa yang mampu menanamkan nilai-nilai persatuan dalam sebuah lagu."WR Soepratman merupakan sosok pemersatu. Dia pahlawan, dia seniman serba bisa, musisi, novelis dan juga pahlawan," katanya.

Sementara itu Rendra sang pemeran Wage yang ikut hadir dalam acara diskusi tersebut mengatakan, dirinya sempat takut karena merasa kurang bisa merepresentasikan sosok Wage yang seorang seniman. Namun karena kemantaban hati dan tantangan spiritualis, ia pun bisa secara apik memerankan sosok pencipta Lagu Indonesia Raya itu. "Cara memegang biola saja saya takut kalau sampai salah. Jujur, secara spiritualis saya juga ijin kepada WR Supratman agar bisa merepresentasikan sosok beliau dengan baik meski jauh dari kata sempurna," terangnya.

 

Tambah komentar

Berikan komentar Anda dengan santun dan membangun...Terima kasih


Security code
Refresh

WAKIL BUPATI

Sub Domain Instansi

Layanan Publik Online

sirup.lkpp.go.id


sirup.lkpp.go.id


lpse.purworejo.go.id


jdih.purworejo.go.id


ppid.purworejo.go.id


ppid.purworejo.go.id


Yang Online

Ada 44 tamu online