Get Adobe Flash player
Home News Seputar Pendidikan Sekolah Terima Bantuan Program Pendidikan Keluarga

Sekolah Terima Bantuan Program Pendidikan Keluarga

Kemendiknas memberikan bantuan kepada tujuh sekolah di Kabupaten Purworejo untuk pelaksanaan program Bimbingan Pendidikan Keluarga (Bimdikel). Tujuh sekolah yang dipercaya sebagai pilot projek dalam program Bimdikel antara lain TK Negeri Pembina Bayan, SD Negeri Purworejo, SMP Negeri 2 Purworejo, SLB Cangkrep, SMA Negeri 7, SMK Negeri I, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sawunggaling Kutoarjo. Masing-masing sekolah menerima bantuan berbeda-beda antara Rp.40 juta hingga Rp.75 juta. Penyaluran bantuan yang berasal dari APBN itu, langsung pada rekening sekolah.

Pelaksanaan program Bimdikel di Kabupaten Purworejo tersebut mendapat perhatian dari Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Ditjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud RI, Dr Sukiman MPd yang hadir secara pribadi pada Jum,at malam di Hotel Suronegaran dalam kegiatan penguatan pelaksana program Bimdikel. Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Purworejo Dr Akhmad Kasinu MPd yang diwakili Sekretaris Drs H MGS Sukusyanto MM, dan semua jajaran pejabat Dikpora.

Dalam kegiatan itu, Sukiman mengawali dengan berdialog terkait program Bimdikel yang baru berjalan pelaksanaannya dan terungkap dari masing-masing sekolah terutama tujuh sekolah telah melaksanakan Bimdikel yang diawali dengan sosialisasi yang melibatkan orang tua murid, juga membentuk paguyuban serta kelompok kerja yang pengurusnya diambil dari sekolah dan orang tua murid.

Sukiman mengapresiasi pelaksanaan Bimdikel di sekolah, dan berharap sekolah dapat  terus berinovasi untuk menumbuhkembangkan karakter dan budaya berprestasi peserta didik, dengan melibatkan keluarga dan masyarakat. “Seperti pengasuhan positif dan kelas inspiratif, yang tentunya sangat diperlukan kerjasama yang harmonis antara sekolah keluarga dan masyarakat. Termasuk sangat pentingnya alat komunikasi handpone dan sejenisnya untuk berkomunikasi dengan wali kelas dan wali murid tentang perkembangan anak. Usahan minimal ada pertemuan dengan walimurid 2 kali dalam 2 semester,” ujarnya.

Sukiman menegaskan, kondisi sekarang pengaruh negative sudah sangat memprihatinkan dari mulai narkoba, rokok, pornografi, sampai adanya perekrutan teroris. Makanya sangat diperlukan pelibatan keluarga dalam mengantisipasi perihal negative itu. “Karena tidak bisa hanya sekolah saja namun harus dengan orangtua dan lingkungan masyarakat menjadi kekuatan bersama untuk mengarahkan anak pada kegiatan dan perilaku positif. Yang paling dibutuhkan adalah imunisasinya berupa penanaman agama dan moral yang kuat, karena tidak mungkin bisa menunggui anak 24 jam setiap harinya,” tuturnya.

Dikatakan, intinya program utama Bimdikel salah satu diantaranya orangtua mengantar anak di hari pertama masuk sekolah tujuannya ada pertemuan dan menjalin komunikasi orangtua dengan walikelas. Tentu bukan sekedar pertemuan tapi membahas program sekolah satu tahun kedepan, sehingga ada sinergis antara sekolah, anak, dan orangtua. “Hari pertama masuk sekolah bagi siswa siswi baru, dimulai PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA harus diantar orangtua, agar saling mengenal antar orangtua juga saling mengenal sekolah maupun sesama murid. Nantinya program Bimdikel ini akan dievaluasi, apakah bisa meningkatkan kualitas anak,” harapnya.

Untuk pengembangan bakat anak, Sukiman meminta sekolah memfasilitasi tentunya yang terjangkau misalnya catur, tenis meja, bulu tangkis, grup music, kesenian koor nyanyi, tari, menulis puisi, karya tulis, gambar dan masih banyak inovasi lainnya. Dengan memberikan kesempatan penyaluran bakat pada kegiatan ekstrakurikuler sekolah.  Kemudian bisa ditampilkan pada pentas akhir tahun atau perpisahan kelulusan sekolah. Semua anak harus tampil tanpa kecuali, jangan hanya perwakilan dipilih-pilih, karena yang diperlukan kebersamaan. “Ini yang harus dilakukan sekolah, semua anak harus ditampilkan untuk mendidik mental anak menjadi cerdas tangguh juga sebagai bentuk mengapresiasi anak. Harapannya kelak anak sebagai generasi bangsa yang mampu berkreasi, mengatasi permasalahan dengan tenang, pantang menyerah dalam mencapai hal positif, dan anak yang memiliki keimanan yang kuat,” harapnya.

Menyangkut kebijakan dijelaskan Sukiman, Kepala Sekolah tidak lagi mengajar tapi Kepala Sekolah berperan sebagai manajer sekolah yang harus berusaha bagaimana memajukan sekolah. Untuk jam kerja guru tidak lagi 24 jam mengajar namun diterapkan waktu 8 jam guru harus berada disekolah. Bukan mengajar tetus menerus, namun banyak yang bisa dilakukan seperti menyiapkan rencana pembelajaran, juga mengoreksi hasil siswa.Termasuk pentingnya ekstrakurikuler, karena masa sangat rawan bagi anak pada jam pulang sekolah hingga menjelang Magrib. “Pada saat-saat itu anak akan mengenal rokok, pornografi, dan lainnya. Ini yang harus menjadi perhatian guru dan orangtua bagaimana memanfaatkan jam-jam itu untuk kegiatan positif,” jelasnya.

Terkait masih terjadinya kasus kekerasan pada anak sekolah, Sukiman mengingatkan walau sudah ada perlindungan guru. Bukan berarti guru semaunya sendiri keras terhadap murid. “Dulu marah lempar penghapus dsbnya, jangan sedikit-sedikit marah dengan sasaran murid, sekarang tidak jamannya eranya beda. Ada UU Perlindungan anak, jika guru melakukan kekerasan pada anak baik fisik maupun psikis akan terkena sanksi hukum,” tandasnya.

Sementara itu Drs H MGS Sukusyanto MM mengatakan, penguatan pendidikan bisa dilakukan melalui pendidikan formal, informal dan non formal. Dengan cara-cara ini para guru bisa mengambil kebijakan, sekaligus mengimplemantasikan, dan bagimana cara mengatasi pengaruh dari luar yang biasanya justru sangat kuat. Apalagi lingkungan memiliki peran yang sangat kuat dan paling cepat memberi pengaruh. “Sehingga melalui kegiatan ini yang berlangsung selama 3 hari, saya berharap ada sinergitas antara orang tua, guru, dan anak,” paparnya.

Ketua penyelenggara Kasdiro melaporkan kegiatan penguatan Bimdikel diikuti 50 orang satuan Pendidikan yang telah mengikuti Bimtek rintisan Pendidikan keluarga di Salatiga. Selain itu juga disertakan 10 orang unsur Pendidikan terkait. Sedangkan output kegiatan ini yakni untuk meningkatkan dan menguatkan kapasitas para kepala satuan Pendidikan dalam mengimplementasikan dan mengembangkan Pendidikan keluarga yang berkulaitas dan berkesinambungan. Juga meningkatkan kemmapuan peserta sebagai anggota masyarakat menjadi teladan di masyarakat, serta adanya perubahan kondisi social di masyarakat yang lebih baik.

 

Tambah komentar

Berikan komentar Anda dengan santun dan membangun...Terima kasih


Security code
Refresh

Iklan

WAKIL BUPATI

Sub Domain Instansi

Layanan Publik Online

sirup.lkpp.go.id


sirup.lkpp.go.id


lpse.purworejo.go.id


jdih.purworejo.go.id


ppid.purworejo.go.id


ppid.purworejo.go.id